Gaji Guru Honorer Indonesia

Hingga akhir tahun 2017, Indonesia memiliki 735.825 guru honorer. Menurut data Aksi Cepat Tangap, negara itu memiliki tambahan 41.000 guru honorer hingga akhir tahun. Sebagian besar guru honorer terdapat di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Provinsi lain yang memiliki populasi guru honorer yang besar adalah Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Kepulauan Riau.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengungkapkan ada 728.461 guru honorer di seluruh sekolah dalam satu tahun terakhir. Berdasarkan data Ikatan Guru Indonesia, 52,2 persen berpenghasilan kurang dari Rp 500 ribu sebulan. Jumlah tersebut jauh lebih kecil dari upah minimum yang diwajibkan di setiap provinsi di tanah air sebesar 2,5 juta rupiah per bulan. Juga, jumlah pekerjaan guru honorer hampir sama dengan guru tetap. Ini adalah statistik yang mungkin mengejutkan beberapa orang.

Guru honorer dibayar Rp 150.000-Rp 500.000 per bulan, berdasarkan gaji mereka. Guru honorer harus berjalan kaki tiga kilometer untuk mendapatkan gaji. Ini berarti bahwa mereka berjalan di jalan tanah yang kasar sejauh tiga kilometer untuk mencapai sekolah mereka setiap hari. Guru honorer sering mengalami keterlambatan penerimaan gaji karena kekurangan dana.

Gaji guru dapat dibayarkan melalui APBN. Namun, gaji guru honorer terletak di tengah-tengah anggaran tanah tak bertuan. Gaji guru honorer berasal dari APBN, gaji guru honorer ada di APBN yang terbentang di antaranya. Oleh karena itu, banyak kabupaten dan sekolah memilih untuk membayar guru honorer melalui dana mereka sendiri. Berapapun penghasilan yang diperoleh guru honorer, mereka memperoleh gaji yang tidak setinggi upah minimum regional.

Selain upah yang rendah, guru honorer juga dihadapkan pada tantangan lain. Banyak guru honorer, meskipun kontribusi mereka cukup besar, tidak mendapatkan gaji yang sesuai dengan tuntutan mereka. Mereka sering dibayar kurang dari seribu rupiah sebulan. Guru honorer tidak mendapatkan gaji apapun. Mereka dibayar dengan jumlah yang minimal dan tidak menerima cukup uang untuk membayar biaya pokok mereka.

Selain upah rendah dan gaji rendah, guru honorer tidak dapat diakui secara hukum sebagai pendidik, tetapi mereka dapat mengajar di sekolah. Sementara mereka tidak dibayar untuk melakukan pekerjaannya, guru honorer diberikan tunjangan bulanan sebesar Rp150.000 per bulan. Ini jauh lebih rendah dari itu untuk instruktur penuh waktu. Guru honorer menikmati berbagai manfaat. Selain tidak dibayar sama sekali, guru honorer ini bisa mendapatkan hingga US$35 per bulan.

Penelitian mengungkapkan bahwa 10% guru honorer di Indonesia belum menerima upah minimum. Upah minimum untuk guru honorer adalah Rp150.000 sebulan. Dengan besarnya tenaga kerja yang terlibat, ini tidak akan cukup memenuhi kebutuhan para guru ini. Sebaliknya, guru honorer mendapat gaji antara Rp150.000 hingga Rp500.000 per bulan. Mereka membayar gaji yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Ada banyak pendidik honorer yang berdomisili di Indonesia. Namun, jumlah guru honorer masih sedikit, dan gaji mereka lebih rendah dari guru tetap. Hanya ada satu perbedaan: mereka tidak diakui secara resmi sebagai guru. Namun, mereka mungkin guru di sekolah. Di banyak negara, guru honorer dianggap sebagai satu-satunya tipe guru. Mereka juga dapat dilatih dengan gaji kecil, tetapi mereka tidak diakui sebagai guru.

Guru honorer, terlepas dari pendapatannya yang rendah tidak mendapatkan pengakuan dari lembaga pendidikan untuk menjadi pengajar. Mereka masih bisa mengajar di sekolah, tetapi mereka tidak diakui secara hukum sebagai guru. Alasannya adalah karena mereka tidak diakui secara formal sebagai guru oleh keputusan pendidikan dan tidak didanai oleh pemerintah. Meski berpenghasilan Rp150.000 per bulan, penghasilan mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Penting untuk dicatat bahwa upaya mereka tidak hanya diakui sebagai kehormatan.